Senin, 07 September 2020

Setahun (Part 1)

 

Satu Tahun (Part 1)

Hari ini tanggal 15 Agustus 2020, tepat setahun kembali ke kampung halaman setelah enam tahun merantau di Surabaya. Meskipun dilahirkan dan tumbuh di desa, kembali ke desa setelah merantau ternyata bukan suatu hal yang mudah. Berbagai macam kekhawatiran menjadi beban tersendiri. Sehingga sebelum kembali ke desa, banyak merencanakan berbagai hal tentang bagaimana setelah hidup di desa nanti. Terutama masalah pekerjaan, aktivitas sosial, bisnis, relasi dan lain sebagainya. Tidak terasa setahun telah berlalu. Banyak hal telah dilalui, dan banyak hal pula yang belum dilalui karena perjalanan masih panjang. Menjelang balik kampung, mulai melamar pekerjaan ke berbagai instansi swasta di kota kelahiran. Tidak sampai sebulan akhirnya ada lowongan dan diterima bekerja di salah satu instansi swasta yang bergerak di industri pendidikan. Disamping bekerja, memiliki bisnis sendiri sudah menjadi rencana sebelumnya setelah kembali ke kampung, mengingat di Surabaya sebelumnya juga menjalankan bisnis kecil-kecilnya bersama rekan-rekan sejawat. Mulanya ingin menjalankan bisnis seperti di Surabaya yaitu jasa di bidang pelayanan teknologi, akan tetapi kondisi Surabaya dan Kediri ternyata jauh berbeda sehingga bisnis tersebut tidak memungkinkan untuk dijalankan di Kediri. Mulai menyesuaikan diri dan mempelajari hal baru tentu menjadi barang wajib supaya terus bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Sebulan sebelum balik kampung, kebetulan ada rekan satu desa yang menghubungi untuk menyambung silaturahmi, entah tahu dari mana saya akan pindah ke kediri dalam waktu dekat. Dari silaturahmi itu muncul ide untuk membuka bisnis baru di bidang peternakan, lebih tepatnya yaitu peternakan puyuh petelur. Beberapa rencana dijalankan, mulai survei lokasi, menjalin relasi dengan beberapa peternak senior, suplier dan distributor. Satu bulan setelah itu peternakan puyuh petelur berhasil kami buka di tiga tempat berbeda dengan kapasitas 3.000 ekor. Sesuai kalkulasi investasi, kami memilih puyuh petelur karena tergiur dengan keuntungan yang ditawarkan. Secara teori, peternakan puyuh bisa menghasilkan pengembalian 50%-70% dari modal yang di investasikan. Misalnya bila menginvestasikan 50 juta rupiah, maka setahun kemudian bisa kembali 75 juta berkat keuntungan 25 juta rupiah. Dua bulan pertama berjalan dengan lancar sesuai rencana. Bahkan produksi telur melampaui target yang direncanakan.  Akan tetapi, realita tidak semulus teori. Beberapa kendala akhirnya muncul, mulai dari cuaca panas ekstrem bulan Oktober-Desember yang membuat banyak puyuh mati. Cuaca ekstrem yang sebelumnya juga tidak pernah dialami oleh para peternak senior. Pada saat itu 15% ekor puyuh mati mendadak, sehingga tinggal 85% saja yang bertahan. Cuaca ekstrem tidak hanya membuat banyak puyuh mati, akan tetapi produksi telur juga menurun hingga 30%. Bahkan selama tiga bulan itu kami tidak memperoleh keuntungan sama sekali. Memasuki Januari cuaca normal dan peternakan kembali normal seperti sediakala. Satu bulan bisa bernafas lega, memasuki bulan Februari masalah kembali muncul, curah hujan tinggi memperparah kondisi kendang kami yang tidak standart, kelembaban naik dan tidak bisa diatasi sehingga bau kotoran sangat mengganggu warga sekitar. Beberapa protes dari tetangga tentu menjadi tekanan tersendiri bagi kami. Ditambah memasuki bulan Maret puyuh terkena infeksi virus karena terlewat di vaksin, sehingga bulan April peternakan puyuh resmi kami tutup dan kami jual sebelum kondisi semakin parah. Modal masih kembali 70%, 30% yang harusnya kami target kembali bulan Mei sampai Juni tidak sempat kami lalui. Akan tetapi, pengalaman berharga yang kami dapatkan tidak ada harganya.

Foto: Mampir makan malam di emperan usai survei lokasi peternakan

                                                                                    (Bersambung…………)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar