Kembali ke desa memang memiliki tantangan tersendiri mengingat kondisi yang jauh berbeda antara Kediri dengan Surabaya. Kendati sejak kecil lahir dan dibesarkan di desa, namun semenjak SMP sudah jarang bergaul dengan teman-teman ataupun warga sekitar karena sepulang sekolah langsung pergi untuk tambahan les Bahasa inggris dan pulang hampir malam. Dan juga teman-teman di desa yang dulu sering bermain bersama tidak satu SMP sehingga praktis tidak ada waktu banyak untuk bergaul dengan mereka. Memasuki SMA juga demikian, diterima di SMA di kota juga membuat jarang ada waktu untuk bergaul di lingkungan rumah. Selain tidak ada teman satu desa yang sekolah disana, pada saat itu sekolah menerapkan Full Day School yang mana kegiatan pembelajaran dimulai pagi hingga menjelang sore. Itupun di hari sabtu minggu sering kali menginap di sekolah dikarenakan agenda organisasi sekolah. Jeda waktu antara lulus SMA dan kuliah juga tidak full dirumah, karena mengikuti program persiapan kuliah melalui organisasi masyarakat NU yang mengharuskan menginap di pondok pesantren selama beberapa waktu. Pergaulan dengan warga sekitar dan teman-teman di desa juga putus semenjak kuliah dan merantau di Surabaya. Hal ini memperberat kondisi adaptasi karena setelah pulang ternyata teman-teman dan yang lainya terasa sangat berbeda. Kami merasa sudah tidak se-frekuensi seperti dulu lagi, saling bicara juga tidak bisa saling merespon. Mungkin itulah gunanya punya pergaulan yang luas di berbagai kondisi orang sehingga akhirnya bisa bergaul dengan baik. Kondisi ini tentu tidak membuat putus asa untuk terus menjalin relasi. Dimulai dari kawan satu desa yang menghubungi pertama kali, lalu dekat dengan rekan-rekan desa lainya. Kebetulan berkat berbisnis bersama dibidang peternakan puyuh itu bisa menjalin beberapa relasi di desa. Mulai dari sesama peternak, perangkat desa, dan beberapa relasi lainya. Bertepatan setelah saya pulang, kebetulan desa juga punya gawe yaitu pemilihan kepala desa. Hal ini menguntungkan, karena beberapa orang mendadak akrab satu sama lain, banyak agenda mengumpulkan orang, dan acara sejenisnya yang dilakukan oleh kedua tim sukses calon kepada desa sehingga mempermudah saya dalam menjalin relasi dengan warga. Kedua tim sukses juga sengaja datang ke rumah untuk mengajak bergabung dan mungkin tidak sekali dua kali mereka datang. Akan tetapi, sepertinya terlalu dini jika harus bergabung karena belum terlalu mengenal karakter warga. Dan juga rasanya tidak enak jika harus memilih bergabung dengan salah satu pihak mengingat kondisi demokrasi di desa yang belum dewasa yang sering kali menimbulkan permusuhan antar warga karena berbeda pilihan, bahkan setelah kontestasi pilkades selesai. Karena desakan Kepala Dusun pada saat itu akhirnya saya bergabung dengan KPU desa. Demikian itu membuat saya lebih aman karena KPU tidak boleh menjadi tim sukses calon kepala desa. Berkat kontetasi pilkades itu sering kali berdiskusi dengan beberapa perangkat desa dan stake holder di desa guna membicarakan program-program di desa terutama terkait kepemudaan. Untuk menunjang rencana program di desa itu akhirnya kami bersama rekan-rekan di desa yang lain membentuk perkumpulan pemuda yang tidak formal dan mengusulkan beberapa gagasan. Salah satu diantaranya adalah penataan administrasi birokrasi, kursus Bahasa inggris dan juga program Digitalisasi Desa serta yang lainya. Dari perkumpulan itu akhirnya dua diantara kami juga diangkat menjadi staf desa guna membantu tugas-tugas birokrasi di desa. Rencana kami mengenai program-program di desa mulai di eksekusi, beberapa persetujuan dari pemangku kekuasaan juga didapat, akan tetapi beberapa program penting akhirnya terpending karena pandemi korona. Karena semua anggaran dialihkan untuk penanganan pandemi. Bahkan untuk program Bahasa inggris yang jadwalnya mulai bulan depan juga dibatalkan. Padahal anggaran pelaksanaan program itu tidak lah besar, kondisi keuangan desa yang kritis mungkin menjadi penyebab yang tidak bisa dihindari. Apalagi program-program kami seperti Digitalisasi desa yang membutuhkan dana tidak sedikit, mungkin akan mengalami penundaan sampai waktu yang belum ditentukan. Semoga pandemi cepat usai dan kondisi bisa cepat pulih seperti semula.
Foto : Sharing dan ngopi bareng rekan-rekan
(Bersambung……..)

