Senin, 07 September 2020

Satu Tahun (Part 2)


Kembali ke desa memang memiliki tantangan tersendiri mengingat kondisi yang jauh berbeda antara Kediri dengan Surabaya. Kendati sejak kecil lahir dan dibesarkan di desa, namun semenjak SMP sudah jarang bergaul dengan teman-teman ataupun warga sekitar karena sepulang sekolah langsung pergi untuk tambahan les Bahasa inggris dan pulang hampir malam. Dan juga teman-teman di desa yang dulu sering bermain bersama tidak satu SMP sehingga praktis tidak ada waktu banyak untuk bergaul dengan mereka. Memasuki SMA juga demikian, diterima di SMA di kota juga membuat jarang ada waktu untuk bergaul di lingkungan rumah. Selain tidak ada teman satu desa yang sekolah disana, pada saat itu sekolah menerapkan Full Day School yang mana kegiatan pembelajaran dimulai pagi hingga menjelang sore. Itupun di hari sabtu minggu sering kali menginap di sekolah dikarenakan agenda organisasi sekolah. Jeda waktu antara lulus SMA dan kuliah juga tidak full dirumah, karena mengikuti program persiapan kuliah melalui organisasi masyarakat NU yang mengharuskan menginap di pondok pesantren selama beberapa waktu. Pergaulan dengan warga sekitar dan teman-teman di desa juga putus semenjak kuliah dan merantau di Surabaya. Hal ini memperberat kondisi adaptasi karena setelah pulang ternyata teman-teman dan yang lainya terasa sangat berbeda. Kami merasa sudah tidak se-frekuensi seperti dulu lagi, saling bicara juga tidak bisa saling merespon. Mungkin itulah gunanya punya pergaulan yang luas di berbagai kondisi orang sehingga akhirnya bisa bergaul dengan baik. Kondisi ini tentu tidak membuat putus asa untuk terus menjalin relasi. Dimulai dari kawan satu desa yang menghubungi pertama kali, lalu dekat dengan rekan-rekan  desa lainya. Kebetulan berkat berbisnis bersama dibidang peternakan puyuh itu bisa menjalin beberapa relasi di desa. Mulai dari sesama peternak, perangkat desa, dan beberapa relasi lainya. Bertepatan setelah saya pulang, kebetulan desa juga punya gawe yaitu pemilihan kepala desa. Hal ini menguntungkan, karena beberapa orang mendadak akrab satu sama lain, banyak agenda mengumpulkan orang, dan acara sejenisnya yang dilakukan oleh kedua tim sukses calon kepada desa sehingga mempermudah saya dalam menjalin relasi dengan warga. Kedua tim sukses juga sengaja datang ke rumah untuk mengajak bergabung dan mungkin tidak sekali dua kali mereka datang. Akan tetapi, sepertinya terlalu dini jika harus bergabung karena belum terlalu mengenal karakter warga. Dan juga rasanya tidak enak jika harus memilih bergabung dengan salah satu pihak mengingat kondisi demokrasi di desa yang belum dewasa yang sering kali menimbulkan permusuhan antar warga karena berbeda pilihan, bahkan setelah kontestasi pilkades selesai. Karena desakan Kepala Dusun pada saat itu akhirnya saya bergabung dengan KPU desa. Demikian itu membuat saya lebih aman karena KPU tidak boleh menjadi tim sukses calon kepala desa. Berkat kontetasi pilkades itu sering kali berdiskusi dengan beberapa perangkat desa dan stake holder di desa guna membicarakan program-program di desa terutama terkait kepemudaan. Untuk menunjang rencana program di desa itu akhirnya kami bersama rekan-rekan di desa yang lain membentuk perkumpulan pemuda yang tidak formal dan mengusulkan beberapa gagasan. Salah satu diantaranya adalah penataan administrasi birokrasi, kursus Bahasa inggris dan juga program Digitalisasi Desa serta yang lainya. Dari perkumpulan itu akhirnya dua diantara kami juga diangkat menjadi staf desa guna membantu tugas-tugas birokrasi di desa. Rencana kami mengenai program-program di desa mulai di eksekusi, beberapa persetujuan dari pemangku kekuasaan juga didapat, akan tetapi beberapa program penting akhirnya terpending karena pandemi korona. Karena semua anggaran dialihkan untuk penanganan pandemi. Bahkan untuk program Bahasa inggris yang jadwalnya mulai bulan depan juga dibatalkan. Padahal anggaran pelaksanaan program itu tidak lah besar, kondisi keuangan desa yang kritis mungkin menjadi penyebab yang tidak bisa dihindari. Apalagi program-program kami seperti Digitalisasi desa yang membutuhkan dana tidak sedikit, mungkin akan mengalami penundaan sampai waktu yang belum ditentukan. Semoga pandemi cepat usai dan kondisi bisa cepat pulih seperti semula.

 Foto : Sharing dan ngopi bareng rekan-rekan

                                                                                    (Bersambung……..)

Setahun (Part 1)

 

Satu Tahun (Part 1)

Hari ini tanggal 15 Agustus 2020, tepat setahun kembali ke kampung halaman setelah enam tahun merantau di Surabaya. Meskipun dilahirkan dan tumbuh di desa, kembali ke desa setelah merantau ternyata bukan suatu hal yang mudah. Berbagai macam kekhawatiran menjadi beban tersendiri. Sehingga sebelum kembali ke desa, banyak merencanakan berbagai hal tentang bagaimana setelah hidup di desa nanti. Terutama masalah pekerjaan, aktivitas sosial, bisnis, relasi dan lain sebagainya. Tidak terasa setahun telah berlalu. Banyak hal telah dilalui, dan banyak hal pula yang belum dilalui karena perjalanan masih panjang. Menjelang balik kampung, mulai melamar pekerjaan ke berbagai instansi swasta di kota kelahiran. Tidak sampai sebulan akhirnya ada lowongan dan diterima bekerja di salah satu instansi swasta yang bergerak di industri pendidikan. Disamping bekerja, memiliki bisnis sendiri sudah menjadi rencana sebelumnya setelah kembali ke kampung, mengingat di Surabaya sebelumnya juga menjalankan bisnis kecil-kecilnya bersama rekan-rekan sejawat. Mulanya ingin menjalankan bisnis seperti di Surabaya yaitu jasa di bidang pelayanan teknologi, akan tetapi kondisi Surabaya dan Kediri ternyata jauh berbeda sehingga bisnis tersebut tidak memungkinkan untuk dijalankan di Kediri. Mulai menyesuaikan diri dan mempelajari hal baru tentu menjadi barang wajib supaya terus bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Sebulan sebelum balik kampung, kebetulan ada rekan satu desa yang menghubungi untuk menyambung silaturahmi, entah tahu dari mana saya akan pindah ke kediri dalam waktu dekat. Dari silaturahmi itu muncul ide untuk membuka bisnis baru di bidang peternakan, lebih tepatnya yaitu peternakan puyuh petelur. Beberapa rencana dijalankan, mulai survei lokasi, menjalin relasi dengan beberapa peternak senior, suplier dan distributor. Satu bulan setelah itu peternakan puyuh petelur berhasil kami buka di tiga tempat berbeda dengan kapasitas 3.000 ekor. Sesuai kalkulasi investasi, kami memilih puyuh petelur karena tergiur dengan keuntungan yang ditawarkan. Secara teori, peternakan puyuh bisa menghasilkan pengembalian 50%-70% dari modal yang di investasikan. Misalnya bila menginvestasikan 50 juta rupiah, maka setahun kemudian bisa kembali 75 juta berkat keuntungan 25 juta rupiah. Dua bulan pertama berjalan dengan lancar sesuai rencana. Bahkan produksi telur melampaui target yang direncanakan.  Akan tetapi, realita tidak semulus teori. Beberapa kendala akhirnya muncul, mulai dari cuaca panas ekstrem bulan Oktober-Desember yang membuat banyak puyuh mati. Cuaca ekstrem yang sebelumnya juga tidak pernah dialami oleh para peternak senior. Pada saat itu 15% ekor puyuh mati mendadak, sehingga tinggal 85% saja yang bertahan. Cuaca ekstrem tidak hanya membuat banyak puyuh mati, akan tetapi produksi telur juga menurun hingga 30%. Bahkan selama tiga bulan itu kami tidak memperoleh keuntungan sama sekali. Memasuki Januari cuaca normal dan peternakan kembali normal seperti sediakala. Satu bulan bisa bernafas lega, memasuki bulan Februari masalah kembali muncul, curah hujan tinggi memperparah kondisi kendang kami yang tidak standart, kelembaban naik dan tidak bisa diatasi sehingga bau kotoran sangat mengganggu warga sekitar. Beberapa protes dari tetangga tentu menjadi tekanan tersendiri bagi kami. Ditambah memasuki bulan Maret puyuh terkena infeksi virus karena terlewat di vaksin, sehingga bulan April peternakan puyuh resmi kami tutup dan kami jual sebelum kondisi semakin parah. Modal masih kembali 70%, 30% yang harusnya kami target kembali bulan Mei sampai Juni tidak sempat kami lalui. Akan tetapi, pengalaman berharga yang kami dapatkan tidak ada harganya.

Foto: Mampir makan malam di emperan usai survei lokasi peternakan

                                                                                    (Bersambung…………)