Lingkungan baru dan teman baru, bukan berarti teman yang lama
dilupakan, akan tetapi lebih kepada cepat menyesuaikan diri dengan orang baru. Karena
bukan lingkungan yang menyesuaikan kita tapi kita yang menyesuaikan lingkungan.
Cepat beradaptasi mungkin menjadi satu-satunya cara supaya kita cepat bergerak
dan berbuat. Saya bersyukur beberapa teman-teman mengaji waktu kecil masih ada
yang tetap tinggal di desa meski sebagian juga merantau ke kota lain, bahkan
ada yang ke negara lain. Beberapa teman yang tersisa cukup akrab karena mungkin
jarak dari rumah tidak terlalu jauh. Ketika bertemu sendau gurau dan nostalgia
selalu jadi menu wajib yang selalu kita ingat. Kita ingat 15 tahun yang lalu
setiap sore berangkat ke masjid sambil jajan pentol. Tempat ngaji kami dulu belum semegah yang sekarang ini. Dulu kami masih numpang ngaji
dirumahnya pak kyai. Tempat ngaji kami dulu sepetak ruangan di sebelah ruang
tamu beralaskan tikar, karena dulu rumah pak kyai masih berlantai tanah. Karena
dulu bapak adalah tukang dan pemborong bangunan, bapak bersama teman nya membuat
sepetak ruangan itu menjadi beralas semen dan membuatkan bangku-bangku untuk
mengaji. Berkat lobi-lobi bapak juga akhirnya tanah milik orangtua pak kyai diwakafkan
untuk dijadikan masjid di kemudian hari. Pada hari-hari itu di rumah banyak
sekali proposal dan kertas lain untuk keperluan mencari sumbangan membangun
masjid. Beberapa donatur pun juga akhirnya datang, ada teman bapak dari luar
kota, bahkan ada dari luar negeri yang ikut menyumbang. Kami para santri juga
ikut membantu menjadi kuli sukarela dalam pembangunan masjid itu. Selepas isya
setelah ngaji kami bergotong royong mengangkat batu bata, nguruk tanah, ngaduk
semen dan sebagainya untuk membantu agar pembangunan masjid cepat selesai.
Tidak ada tempo setahun masjid berdiri dan bisa ditempati, namun
masih seadanya. Lantainya juga masih tanah dan tembok juga masih full batu
bata. Semenjak pembangunan masjid ini bapak tiap malam selalu pulang larut,
tapi alhamdulillah ibu tidak pernah mempermaslahkan itu, meskpun pada saat itu
ekonomi juga pas-pasan. Selain berbuat banyak dalam membangun masjid, bapak
juga kreatif menarik santri datang dan betah di masjid. Dulu bapak menginisiasi adanya budaya “Liwetan”, yaitu masak nasi malam-malam untuk dimakan santri
yang tidur di masjid. Dulu pemuda dan santri-santri tiap malam sering tidur di
masjid, tidak seperti sekarang ini, mungkin karena budaya yang juga sudah berubah. Ngliwet
memakai dandang besar dan Nyambel menggunakan cobek dari batu dan
dimakan dengan alas daun pisang beramai-ramai. Budaya ini menjadi primadona
pada saat itu, menjadi ajang berkumpul yang sangat efektif karena mungkin
tahun-tahun itu gadget belum terlalu menjamur. Lambat laun masjid
menjadi sangat ramai dan sekitar 50 santri yang mengaji selepas magrib. Belum termasuk
belasan santri yang ngaji kitab kuning selepas isya. Ditambah lagi menjelang Ramadhan
santri-santri berbondong-bondong membuat peralatan ronda seperti gong, kenong,
angklung dan sebagainya untuk persiapan menyambut Ramadhan. Setiap hari-hari
besar islam selalu diperingati secara semarak. Diadakan pengajian besar yang
mengundang ulama nasional seperti KH. Anwar Mansyur, Alm. KH Idris Marzuqi selaku
pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri. KH. Anwar Mansyur pun akhirnya juga sering mampir
ke masjid atau ke rumah walaupun tanpa ada undangan mengisi pengajian. Saya
masih ingat waktu itu setiap beliau mampir ke rumah dijamu makan dengan menu
ayam kampung bumbu bali dan urap bikinan ibu. Menu tersebut menjadi andalan
beliau ketika berkunjung kesini. Begitu berkesan masa-masa itu membuat kami selalu
ingat.
Tanggal 26 juni 2011 menjadi hari yang juga tidak terlupakan bagi
kami. Selasa dini hari pukul 01.00 wib kami mendengar kabar bahwa bapak wafat dirumah
sakit karena serangan stroke. Kabar ini bagaikan disambar petir disiang
bolong karena kejadian ini begitu mendadak. Sebelumnya, selepas jamaah isya di masjid,
bapak masih makan malam bersama kami, lalu langsung tidur. Begitupun saya dan ibu. Pukul 21.00 wib bapak terkena serangan stroke dan langsung
dilarikan ke rumah sakit. Tepat jam 01.00 wib ada kabar dari rumah sakit bapak
sudah tidak tertolong. Kabar ini mengejutkan semua orang karena sebelumnya
bapak tidak pernah terdengar punya riwayat penyakit. Saya yang pada saat itu
jaga rumah rasanya seperti bingung, campur aduk dan tidak bisa menangis. Baru
setelah jenazah bapak datang pukul 06.00 wib ibu keluar dari ambulan kemudian memeluk dan saat itulah baru
bisa mengeluarkan air mata. Beliau dimandikan di rumah, saat dimandikan inilah
wajahnya tidak pucat seperti orang meninggal, tapi putih bersih hanya seperti
orang tidur. Ikut mensholati dan mengantar jenazah beliau sampai ke liang lahat
mungkin menjadi penghormatan terakhir kepada beliau. Sepulang dari makam, diperjalanan
saya hampir pingsan dan digotong oleh beberapa orang entah siapa karena saking
banyaknya orang. Rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata pada saat itu.
Sedih, takut, bingung dan lelah karena mungkin sejak malam tidak tidur, sehari
sebelumnya juga seharian mengikuti lomba karya tulis hingga magrib.
Belum kering air mata, setahun berselang pakdhe juga wafat dengan cara
yang sama. Beliau meninggal terkena serangan stroke ketika mengadakan
kunjungan ke Balikpapan yang pada saat itu pakdhe menjabat DPRD Jawa Timur dan
ketua Fraksi PKB. Sebelum subuh saya dihubungi nomor pribadi pakdhe yang
ternyata itu adalah Pak Masrur asisten pakdhe, beliau mengabarkan kalau pakdhe terkena
serangat stroke dan meninggal di Balikpapan. Saat itu mungkin saya sudah
bisa mengusai diri dan menyampaikan kabar duka itu kepada keluarga. Sehari
sebelumnya, selepas sholat dhuha beliau rencananya ada rapat dengan pejabat
terkait di Balikpapan. Sebelum rapat beliau bersama anggota dewan yang lain
makan pagi dengan menu lobster dan setelah itu meminum vitamin C. Tidak
berselang lama pakdhe kemudian mengalami serangan stroke. Budhe yang
berada di kediri kemudian langsung terbang ke Balikpapan bersama pak Masrur. Sesampainya budhe disana, tidak berselang lama pakdhe tidak tertolong lagi kemudian jenazah
dikebumikan di Plosoklaten. Selepas meninggalkan bapak, pakdhe yang selalu dimintai
bantuan dana untuk kegiatan masjid oleh takmir. Sepeninggal kedua orang ini
takmir masjid seperti orang linglung, bingung melangkah dan kepada siapa harus
minta tolong lagi. Lambat laun masjid juga semakin sepi, santri yang dulunya
puluhan bahkan hingga luar desa sekarang kegiatan mengaji di masjid sudah tidak
ada lagi. Jamaah juga tidak seramai dulu. Padahal bangunan masjid sudah sangat
megah dan bahkan ada menaranya.
Sepulang dari Surabaya ini alhamdulillah kegiatan di masjid mulai
diaktifkan, bersama rekan-rekan mengaji dulu sepakat untuk membuat kegiatan
ngaji kitab di masjid setiap malam jumat dan setelah itu ngopi bareng dengan
membahas berbagai macam persoalan. Mulai dari soal sains, hukum, sosial
masyarkat, politik hingga asmara. Meskipun tidak banyak yang hadir semoga ini bisa
menjadi awalan untuk kegiatan masjid ke depan supaya lebih baik. Selain mengaji
kami juga mengadakan kunjungan ke makam aulia atau ulama di sekitar kediri
setiap tiga bulan sekali dan satu tahun sekali ziarah ke makam wali songo. Kegiatan
sholawatan juga aktif kembali dengan peserta santri perempuan pada malam jumat
sebelum ngaji kitab. Budaya liwetan yang lama tidak dilaksanakan alhamdulillah
sudah dua kali dilaksanakan dan banyak peserta yang datang dari santri-santri dahulu.
Santri-santri merantau yang tidak bisa hadir mereka juga ikut berkontribusi
dengan menjadi donatur acara masak-masak tersebut. Tapi entah kenapa pas acara
liwetan banyak yang datang tapi ketika ngaji sangat sedikit hehehehe. Dari perkumpulan
ini juga akhirnya juga dibentuk kepengurusan Gerakan Pemuda Ansor Jatirejo yang
akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya.
(Bersambung…….)
Acara Masak-masak (liwetan)
Masak-masak
Ziarah Wali Songo
Ngaji Kitab