Selasa, 27 Oktober 2020

TEMPURUNG DEMOKRASI

Menjelang pesta tiba

Tempurung-tempurung mulai berjejer

Berbaris rapi, pasang badan untuk si Tuan 

Tempurung tak sadar, mereka hanya jajanan demokrasi

Bak raja dan sahaya, sepenuh jiwa tempurung menghamba

Sialnya, tempurung bersuka cita mengabdi pada si Tuan

Tak sadar bahwa dia bukan bagian dari pesta

Ketika pesta tiba, tempurung-tempurung hanya dibakar dalam tungku

Menyalakan api untuk pesta yang tidak bisa mereka nikmati

Saat api mulai menyala, pesta semakin meriah

Sialnya tempurung sudah menjadi abu

Mereka tidak ikut berpesta





Jumat, 16 Oktober 2020

Satu Tahun (Part 3)

 


Lingkungan baru dan teman baru, bukan berarti teman yang lama dilupakan, akan tetapi lebih kepada cepat menyesuaikan diri dengan orang baru. Karena bukan lingkungan yang menyesuaikan kita tapi kita yang menyesuaikan lingkungan. Cepat beradaptasi mungkin menjadi satu-satunya cara supaya kita cepat bergerak dan berbuat. Saya bersyukur beberapa teman-teman mengaji waktu kecil masih ada yang tetap tinggal di desa meski sebagian juga merantau ke kota lain, bahkan ada yang ke negara lain. Beberapa teman yang tersisa cukup akrab karena mungkin jarak dari rumah tidak terlalu jauh. Ketika bertemu sendau gurau dan nostalgia selalu jadi menu wajib yang selalu kita ingat. Kita ingat 15 tahun yang lalu setiap sore berangkat ke masjid sambil jajan pentol. Tempat ngaji kami dulu belum semegah yang sekarang ini. Dulu kami masih numpang ngaji dirumahnya pak kyai. Tempat ngaji kami dulu sepetak ruangan di sebelah ruang tamu beralaskan tikar, karena dulu rumah pak kyai masih berlantai tanah. Karena dulu bapak adalah tukang dan pemborong bangunan, bapak bersama teman nya membuat sepetak ruangan itu menjadi beralas semen dan membuatkan bangku-bangku untuk mengaji. Berkat lobi-lobi bapak juga akhirnya tanah milik orangtua pak kyai diwakafkan untuk dijadikan masjid di kemudian hari. Pada hari-hari itu di rumah banyak sekali proposal dan kertas lain untuk keperluan mencari sumbangan membangun masjid. Beberapa donatur pun juga akhirnya datang, ada teman bapak dari luar kota, bahkan ada dari luar negeri yang ikut menyumbang. Kami para santri juga ikut membantu menjadi kuli sukarela dalam pembangunan masjid itu. Selepas isya setelah ngaji kami bergotong royong mengangkat batu bata, nguruk tanah, ngaduk semen dan sebagainya untuk membantu agar pembangunan masjid cepat selesai.

Tidak ada tempo setahun masjid berdiri dan bisa ditempati, namun masih seadanya. Lantainya juga masih tanah dan tembok juga masih full batu bata. Semenjak pembangunan masjid ini bapak tiap malam selalu pulang larut, tapi alhamdulillah ibu tidak pernah mempermaslahkan itu, meskpun pada saat itu ekonomi juga pas-pasan. Selain berbuat banyak dalam membangun masjid, bapak juga kreatif menarik santri datang dan betah di masjid. Dulu bapak menginisiasi adanya budaya “Liwetan”, yaitu masak nasi malam-malam untuk dimakan santri yang tidur di masjid. Dulu pemuda dan santri-santri tiap malam sering tidur di masjid, tidak seperti sekarang ini, mungkin karena budaya yang juga sudah berubah. Ngliwet memakai dandang besar dan Nyambel menggunakan cobek dari batu dan dimakan dengan alas daun pisang beramai-ramai. Budaya ini menjadi primadona pada saat itu, menjadi ajang berkumpul yang sangat efektif karena mungkin tahun-tahun itu gadget belum terlalu menjamur. Lambat laun masjid menjadi sangat ramai dan sekitar 50 santri yang mengaji selepas magrib. Belum termasuk belasan santri yang ngaji kitab kuning selepas isya. Ditambah lagi menjelang Ramadhan santri-santri berbondong-bondong membuat peralatan ronda seperti gong, kenong, angklung dan sebagainya untuk persiapan menyambut Ramadhan. Setiap hari-hari besar islam selalu diperingati secara semarak. Diadakan pengajian besar yang mengundang ulama nasional seperti KH. Anwar Mansyur, Alm. KH Idris Marzuqi selaku pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri. KH. Anwar Mansyur pun akhirnya juga sering mampir ke masjid atau ke rumah walaupun tanpa ada undangan mengisi pengajian. Saya masih ingat waktu itu setiap beliau mampir ke rumah dijamu makan dengan menu ayam kampung bumbu bali dan urap bikinan ibu. Menu tersebut menjadi andalan beliau ketika berkunjung kesini. Begitu berkesan masa-masa itu membuat kami selalu ingat.

Tanggal 26 juni 2011 menjadi hari yang juga tidak terlupakan bagi kami. Selasa dini hari pukul 01.00 wib kami mendengar kabar bahwa bapak wafat dirumah sakit karena serangan stroke. Kabar ini bagaikan disambar petir disiang bolong karena kejadian ini begitu mendadak. Sebelumnya, selepas jamaah isya di masjid, bapak masih makan malam bersama kami, lalu langsung tidur. Begitupun saya dan ibu. Pukul 21.00 wib bapak terkena serangan stroke dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Tepat jam 01.00 wib ada kabar dari rumah sakit bapak sudah tidak tertolong. Kabar ini mengejutkan semua orang karena sebelumnya bapak tidak pernah terdengar punya riwayat penyakit. Saya yang pada saat itu jaga rumah rasanya seperti bingung, campur aduk dan tidak bisa menangis. Baru setelah jenazah bapak datang pukul 06.00 wib ibu  keluar dari ambulan kemudian memeluk dan saat itulah baru bisa mengeluarkan air mata. Beliau dimandikan di rumah, saat dimandikan inilah wajahnya tidak pucat seperti orang meninggal, tapi putih bersih hanya seperti orang tidur. Ikut mensholati dan mengantar jenazah beliau sampai ke liang lahat mungkin menjadi penghormatan terakhir kepada beliau. Sepulang dari makam, diperjalanan saya hampir pingsan dan digotong oleh beberapa orang entah siapa karena saking banyaknya orang. Rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata pada saat itu. Sedih, takut, bingung dan lelah karena mungkin sejak malam tidak tidur, sehari sebelumnya juga seharian mengikuti lomba karya tulis hingga magrib.

Belum kering air mata, setahun berselang pakdhe juga wafat dengan cara yang sama. Beliau meninggal terkena serangan stroke ketika mengadakan kunjungan ke Balikpapan yang pada saat itu pakdhe menjabat DPRD Jawa Timur dan ketua Fraksi PKB. Sebelum subuh saya dihubungi nomor pribadi pakdhe yang ternyata itu adalah Pak Masrur asisten pakdhe, beliau mengabarkan kalau pakdhe terkena serangat stroke dan meninggal di Balikpapan. Saat itu mungkin saya sudah bisa mengusai diri dan menyampaikan kabar duka itu kepada keluarga. Sehari sebelumnya, selepas sholat dhuha beliau rencananya ada rapat dengan pejabat terkait di Balikpapan. Sebelum rapat beliau bersama anggota dewan yang lain makan pagi dengan menu lobster dan setelah itu meminum vitamin C. Tidak berselang lama pakdhe kemudian mengalami serangan stroke. Budhe yang berada di kediri kemudian langsung terbang ke Balikpapan bersama pak Masrur. Sesampainya budhe disana, tidak berselang lama pakdhe tidak tertolong lagi kemudian jenazah dikebumikan di Plosoklaten. Selepas meninggalkan bapak, pakdhe yang selalu dimintai bantuan dana untuk kegiatan masjid oleh takmir. Sepeninggal kedua orang ini takmir masjid seperti orang linglung, bingung melangkah dan kepada siapa harus minta tolong lagi. Lambat laun masjid juga semakin sepi, santri yang dulunya puluhan bahkan hingga luar desa sekarang kegiatan mengaji di masjid sudah tidak ada lagi. Jamaah juga tidak seramai dulu. Padahal bangunan masjid sudah sangat megah dan bahkan ada menaranya.

Sepulang dari Surabaya ini alhamdulillah kegiatan di masjid mulai diaktifkan, bersama rekan-rekan mengaji dulu sepakat untuk membuat kegiatan ngaji kitab di masjid setiap malam jumat dan setelah itu ngopi bareng dengan membahas berbagai macam persoalan. Mulai dari soal sains, hukum, sosial masyarkat, politik hingga asmara. Meskipun tidak banyak yang hadir semoga ini bisa menjadi awalan untuk kegiatan masjid ke depan supaya lebih baik. Selain mengaji kami juga mengadakan kunjungan ke makam aulia atau ulama di sekitar kediri setiap tiga bulan sekali dan satu tahun sekali ziarah ke makam wali songo. Kegiatan sholawatan juga aktif kembali dengan peserta santri perempuan pada malam jumat sebelum ngaji kitab. Budaya liwetan yang lama tidak dilaksanakan alhamdulillah sudah dua kali dilaksanakan dan banyak peserta yang datang dari santri-santri dahulu. Santri-santri merantau yang tidak bisa hadir mereka juga ikut berkontribusi dengan menjadi donatur acara masak-masak tersebut. Tapi entah kenapa pas acara liwetan banyak yang datang tapi ketika ngaji sangat sedikit hehehehe. Dari perkumpulan ini juga akhirnya juga dibentuk kepengurusan Gerakan Pemuda Ansor Jatirejo yang akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya.

(Bersambung…….)


Acara Masak-masak (liwetan)




 Masak-masak

Ziarah Wali Songo 

Ngaji Kitab


Rabu, 07 Oktober 2020

DPR dan UU Cipta Kerja

 

Belakang ini kita kembali diguncang oleh Senayan. Topik mengenai Omnibus Law menjadi perbincangan menarik di sosial media akhir-akhir ini. Berbagai macam kritikan hingga hujatan diucapkan oleh penghuni sosial media kepada DPR. UU Cipta Kerja banyak menuai kecaman dari berbagai kalangan, terutama kaum buruh dan tenaga kerja. Bagaimana tidak, UU yang disahkan DPR diwaktu tengah malam tersebut dinilai sangat merugikan tenaga kerja Indonesia. Sehingga wajar tiga hari ini sosial media kita dibanjiri oleh keluh kesah para buruh dan tenaga kerja. Bahkan tidak hanya buruh dan tenaga kerja saja yang menyampaikan aspirasinya mengenai UU Cipta Kerja ini, akan tetapi beberapa kalangan seperti pelajar, ibu rumah tangga, mahasiswa dan bahkan pengangguran pun ikut serta bersuara melalui sosial media dengan memaki-maki DPR. Akan tetapi, pada kesempatan kali ini saya tidak ingin terlalu banyak berdiskuasi mengenai kontroversi dan pro-kontra terkait Omnibus Law, tapi lebih kepada Genealogi atau asal-usul bagaimana DPR dan Omnibus Law bisa sampai kita terima seperti sekarang ini. Bagi saya DPR dan Omnibus Law adalah suatu produk, bukanlah sebuah proses. Lalu siapa yang berproses? Yang berproses adalah bangsa ini. DPR dan Omnibus Law adalah produk yang dihasilkan oleh sebuah proses atau usaha yang dilakukan oleh bangsa ini. Sehingga tidak terlalu tepat bila hanya DPR yang menjadi kambing hitam atas segala kegaduhan ini. Omnibus Law dan DPR sebagai produk tentu bukanlah suatu objek yang bisa disalahkan, karena dia adalah hasil. Hasil tidak mungkin bisa disalahkan dan dievaluasi karena yang bisa dievaluasi adalah prosesnya. Bila hasilnya kita rasa kurang memuaskan, yang bisa kita perbaiki adalah prosesnya, bukan hasilnya. Sehingga memaki-maki DPR tentu tidak akan merubah suatu apapun, karena DPR adalah hasil. Dalam hal ini bukan saya membela DPR dan pihak pemerintah, akan tetapi mengajak kita berfikir ulang dan berdiskusi bagaimana cara melihat persoalan ini secara lebih fundamental. DPR dan Omnibus Law dihasilkan dari proses yang bernama pemilu. Dimana yang menjadi aktor utama dalam pemilu adalah bangsa ini atau rakyat. Seandainya kita membuat sebuah analogi dengan jual beli, rakyat adalah pasar dan politisi adalah penjual. Penjual akan melihat lebih dulu bagaimana kondisi pasar sebelum menjual daganganya. Penjual tentu melakukan survei dan analisa, dagangan apa yang laku dijual di pasaran dan mendapat untung besar. Politisi tidak akan menjual dagangan yang mungkin rakyat tidak suka. Dalam masalah ini pasar atau rakyatlah sebetulnya yang bertindak sebagai penentu. Sehingga terpilihnya 575 orang DPR yang duduk di Senayan adalah hasil dari jual beli yang sah antara politisi dan rakyat. Lima ratus tujuh puluh lima orang tersebut adalah hasil dari proses yang dilakukan oleh rakyat. Politisi tidak mungkin memasang calon anggota DPR yang pandai, bila rakyat menginginkan calon DPR yang kaya. Karena dagangan calon DPR yang pandai tidak mungkin akan laku. Politisi kan jago pencitraan, orang yang bodoh dibuat seolah-olah jadi pandai. Pasar yang cerdas tentu tidak mudah dikelabui, sehingga dia tetap bisa memilih dagangan yang bagus. Sehingga jika politisi tahu kondisi pasar ternyata cerdas tentu dia akan menyajikan calon anggota DPR yang benar-benar pandai pula.

Berkaca dari analogi tersebut sebetulnya tidak mengherankan bila berprosesnya bangsa ini kemudian menghasilkan DPR dan Omnibus Law dengan kualitas seperti yang sekarang ini. Dibalik hasil yang mengecewakan tentu kita bisa menilai bagaimana proses yang terjadi dibelakang itu semua. Money politic yang sebetulnya dilarang seakan menjadi praktek wajib setiap adanya kontestasi demokrasi. Siapa yang ada uangnya itulah yang dipilih, tidak peduli siapa orangnya dan latar belakangnya seperti apa. Jual beli suara akhirnya menjadi mata uang politik yang sah di negeri ini. Belum lagi kampanye hitam dan ujaran kebencian yang selalu menjadi satelit setiap adanya pesta demokrasi. Wargapun nyatanya juga lebih suka menanggapi hal-hal yang berbau hoax yang mengundang permusuhan antar golongan dari pada mempelajari visi misi calon. Sehingga buzzer politik menjadi jenis pekerjaan baru di era kemajuan teknologi seperti sekarang ini. Kita juga bisa menilai bagaimana kualitas pasar (Rakyat) pada saat merespon disahkannya UU Cipta Karya ini, tanpa analisa panjang lebar masyarakat dengan sangat agresif memaki-maki DPR. Warga sangat tertarik dengan caci maki daripada visi misi. Masyarakat lebih tertarik dengan uang daripada akal dan pikiran. Lebih banyak warga yang subscribe Atta Halilintar daripada akun investasi dan manajemen keuangan. Lebih banyak warga yang mem-follow K-POP daripada akun metode bernalar dan matematika. Banyak akun bermanfaat yang bisa dikonsumsi akan tetapi lebih menarik akun-akun yang banyak menimbulkan sensasi. Saya tidak tertarik membuli habis-habisan DPR karena tidak mereka saja yang layak dijadikan kambing hitam. DPR hanyalah satu dari sekian batu sandungan dalam proses membangun negeri ini menuju lebih baik. Kekuatan terbesar dalam menentukan arah negeri ini adalah rakyat itu sendiri. Tolak Money Politic maka kita akan dapatkan wakil rakyat yang jujur. Pelajari visi misi calon agar mendapatkan kandidat yang berpikiran cerdas. Konsumsi akun-akun sosial media bermanfaat supaya menambah wawasan dan memperluas prespektif. Luasnya prespektif membuat seseorang tidak mudah terpengaruh berita bohong atau hoax. Jangan salahkan DPR jika sebetulnya kita sendiri yang membuatnya terpilih untuk duduk di Senayan. Jika warga sebagai pasar sudah cerdas dalam memilih dan memilah calon terbaik, maka politisi akan menghadirkan calon yang memiliki integritas pula. Jika politisi menghadirkan calon yang tidak sesuai, jangan dipilih, bukankah begitu seharusnya menjadi rakyat. Akan tetapi nyatanya tidak, dengan uang 30 ribu suara kita bisa dibeli, sehingga integritas kita seharga tiga mangkuk bakso di emperan. Tak heran jika DPR yang terpilih juga memiliki integritas setingkat kaki lima.  

Senin, 07 September 2020

Satu Tahun (Part 2)


Kembali ke desa memang memiliki tantangan tersendiri mengingat kondisi yang jauh berbeda antara Kediri dengan Surabaya. Kendati sejak kecil lahir dan dibesarkan di desa, namun semenjak SMP sudah jarang bergaul dengan teman-teman ataupun warga sekitar karena sepulang sekolah langsung pergi untuk tambahan les Bahasa inggris dan pulang hampir malam. Dan juga teman-teman di desa yang dulu sering bermain bersama tidak satu SMP sehingga praktis tidak ada waktu banyak untuk bergaul dengan mereka. Memasuki SMA juga demikian, diterima di SMA di kota juga membuat jarang ada waktu untuk bergaul di lingkungan rumah. Selain tidak ada teman satu desa yang sekolah disana, pada saat itu sekolah menerapkan Full Day School yang mana kegiatan pembelajaran dimulai pagi hingga menjelang sore. Itupun di hari sabtu minggu sering kali menginap di sekolah dikarenakan agenda organisasi sekolah. Jeda waktu antara lulus SMA dan kuliah juga tidak full dirumah, karena mengikuti program persiapan kuliah melalui organisasi masyarakat NU yang mengharuskan menginap di pondok pesantren selama beberapa waktu. Pergaulan dengan warga sekitar dan teman-teman di desa juga putus semenjak kuliah dan merantau di Surabaya. Hal ini memperberat kondisi adaptasi karena setelah pulang ternyata teman-teman dan yang lainya terasa sangat berbeda. Kami merasa sudah tidak se-frekuensi seperti dulu lagi, saling bicara juga tidak bisa saling merespon. Mungkin itulah gunanya punya pergaulan yang luas di berbagai kondisi orang sehingga akhirnya bisa bergaul dengan baik. Kondisi ini tentu tidak membuat putus asa untuk terus menjalin relasi. Dimulai dari kawan satu desa yang menghubungi pertama kali, lalu dekat dengan rekan-rekan  desa lainya. Kebetulan berkat berbisnis bersama dibidang peternakan puyuh itu bisa menjalin beberapa relasi di desa. Mulai dari sesama peternak, perangkat desa, dan beberapa relasi lainya. Bertepatan setelah saya pulang, kebetulan desa juga punya gawe yaitu pemilihan kepala desa. Hal ini menguntungkan, karena beberapa orang mendadak akrab satu sama lain, banyak agenda mengumpulkan orang, dan acara sejenisnya yang dilakukan oleh kedua tim sukses calon kepada desa sehingga mempermudah saya dalam menjalin relasi dengan warga. Kedua tim sukses juga sengaja datang ke rumah untuk mengajak bergabung dan mungkin tidak sekali dua kali mereka datang. Akan tetapi, sepertinya terlalu dini jika harus bergabung karena belum terlalu mengenal karakter warga. Dan juga rasanya tidak enak jika harus memilih bergabung dengan salah satu pihak mengingat kondisi demokrasi di desa yang belum dewasa yang sering kali menimbulkan permusuhan antar warga karena berbeda pilihan, bahkan setelah kontestasi pilkades selesai. Karena desakan Kepala Dusun pada saat itu akhirnya saya bergabung dengan KPU desa. Demikian itu membuat saya lebih aman karena KPU tidak boleh menjadi tim sukses calon kepala desa. Berkat kontetasi pilkades itu sering kali berdiskusi dengan beberapa perangkat desa dan stake holder di desa guna membicarakan program-program di desa terutama terkait kepemudaan. Untuk menunjang rencana program di desa itu akhirnya kami bersama rekan-rekan di desa yang lain membentuk perkumpulan pemuda yang tidak formal dan mengusulkan beberapa gagasan. Salah satu diantaranya adalah penataan administrasi birokrasi, kursus Bahasa inggris dan juga program Digitalisasi Desa serta yang lainya. Dari perkumpulan itu akhirnya dua diantara kami juga diangkat menjadi staf desa guna membantu tugas-tugas birokrasi di desa. Rencana kami mengenai program-program di desa mulai di eksekusi, beberapa persetujuan dari pemangku kekuasaan juga didapat, akan tetapi beberapa program penting akhirnya terpending karena pandemi korona. Karena semua anggaran dialihkan untuk penanganan pandemi. Bahkan untuk program Bahasa inggris yang jadwalnya mulai bulan depan juga dibatalkan. Padahal anggaran pelaksanaan program itu tidak lah besar, kondisi keuangan desa yang kritis mungkin menjadi penyebab yang tidak bisa dihindari. Apalagi program-program kami seperti Digitalisasi desa yang membutuhkan dana tidak sedikit, mungkin akan mengalami penundaan sampai waktu yang belum ditentukan. Semoga pandemi cepat usai dan kondisi bisa cepat pulih seperti semula.

 Foto : Sharing dan ngopi bareng rekan-rekan

                                                                                    (Bersambung……..)

Setahun (Part 1)

 

Satu Tahun (Part 1)

Hari ini tanggal 15 Agustus 2020, tepat setahun kembali ke kampung halaman setelah enam tahun merantau di Surabaya. Meskipun dilahirkan dan tumbuh di desa, kembali ke desa setelah merantau ternyata bukan suatu hal yang mudah. Berbagai macam kekhawatiran menjadi beban tersendiri. Sehingga sebelum kembali ke desa, banyak merencanakan berbagai hal tentang bagaimana setelah hidup di desa nanti. Terutama masalah pekerjaan, aktivitas sosial, bisnis, relasi dan lain sebagainya. Tidak terasa setahun telah berlalu. Banyak hal telah dilalui, dan banyak hal pula yang belum dilalui karena perjalanan masih panjang. Menjelang balik kampung, mulai melamar pekerjaan ke berbagai instansi swasta di kota kelahiran. Tidak sampai sebulan akhirnya ada lowongan dan diterima bekerja di salah satu instansi swasta yang bergerak di industri pendidikan. Disamping bekerja, memiliki bisnis sendiri sudah menjadi rencana sebelumnya setelah kembali ke kampung, mengingat di Surabaya sebelumnya juga menjalankan bisnis kecil-kecilnya bersama rekan-rekan sejawat. Mulanya ingin menjalankan bisnis seperti di Surabaya yaitu jasa di bidang pelayanan teknologi, akan tetapi kondisi Surabaya dan Kediri ternyata jauh berbeda sehingga bisnis tersebut tidak memungkinkan untuk dijalankan di Kediri. Mulai menyesuaikan diri dan mempelajari hal baru tentu menjadi barang wajib supaya terus bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Sebulan sebelum balik kampung, kebetulan ada rekan satu desa yang menghubungi untuk menyambung silaturahmi, entah tahu dari mana saya akan pindah ke kediri dalam waktu dekat. Dari silaturahmi itu muncul ide untuk membuka bisnis baru di bidang peternakan, lebih tepatnya yaitu peternakan puyuh petelur. Beberapa rencana dijalankan, mulai survei lokasi, menjalin relasi dengan beberapa peternak senior, suplier dan distributor. Satu bulan setelah itu peternakan puyuh petelur berhasil kami buka di tiga tempat berbeda dengan kapasitas 3.000 ekor. Sesuai kalkulasi investasi, kami memilih puyuh petelur karena tergiur dengan keuntungan yang ditawarkan. Secara teori, peternakan puyuh bisa menghasilkan pengembalian 50%-70% dari modal yang di investasikan. Misalnya bila menginvestasikan 50 juta rupiah, maka setahun kemudian bisa kembali 75 juta berkat keuntungan 25 juta rupiah. Dua bulan pertama berjalan dengan lancar sesuai rencana. Bahkan produksi telur melampaui target yang direncanakan.  Akan tetapi, realita tidak semulus teori. Beberapa kendala akhirnya muncul, mulai dari cuaca panas ekstrem bulan Oktober-Desember yang membuat banyak puyuh mati. Cuaca ekstrem yang sebelumnya juga tidak pernah dialami oleh para peternak senior. Pada saat itu 15% ekor puyuh mati mendadak, sehingga tinggal 85% saja yang bertahan. Cuaca ekstrem tidak hanya membuat banyak puyuh mati, akan tetapi produksi telur juga menurun hingga 30%. Bahkan selama tiga bulan itu kami tidak memperoleh keuntungan sama sekali. Memasuki Januari cuaca normal dan peternakan kembali normal seperti sediakala. Satu bulan bisa bernafas lega, memasuki bulan Februari masalah kembali muncul, curah hujan tinggi memperparah kondisi kendang kami yang tidak standart, kelembaban naik dan tidak bisa diatasi sehingga bau kotoran sangat mengganggu warga sekitar. Beberapa protes dari tetangga tentu menjadi tekanan tersendiri bagi kami. Ditambah memasuki bulan Maret puyuh terkena infeksi virus karena terlewat di vaksin, sehingga bulan April peternakan puyuh resmi kami tutup dan kami jual sebelum kondisi semakin parah. Modal masih kembali 70%, 30% yang harusnya kami target kembali bulan Mei sampai Juni tidak sempat kami lalui. Akan tetapi, pengalaman berharga yang kami dapatkan tidak ada harganya.

Foto: Mampir makan malam di emperan usai survei lokasi peternakan

                                                                                    (Bersambung…………)